
Jakarta, Beritasatu.com - Kinerja pasar saham Indonesia terus menanjak, bahkan indeks harga saham gabungan (IHSG) diproyeksikan menembus level 10.500 pada 2026.
Pada Senin (19/1/2026), IHSG ditutup menguat 58,47 poin (0,64%) ke level 9.133,8. Level tersebut merupakan rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH). Sebelumnya pada 2025, IHSG mencetak 24 rekor ATH.
Dalam risetnya, Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai prospek pasar saham Indonesia pada 2026 tetap konstruktif, dengan target IHSG pada level 10.500, didukung ekspektasi pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi serta potensi kebijakan yang lebih akomodatif.
Chief Economist & Head of Research Mirae Asset Rully Arya Wisnubroto menyampaikan, IHSG menunjukkan tren positif sejak awal 2026, melanjutkan momentum dari tahun sebelumnya.
“Menariknya, penguatan IHSG pada awal 2026 terjadi di tengah data ekonomi yang relatif kurang menggembirakan, mulai dari inflasi Desember 2025 yang tinggi, surplus neraca perdagangan yang lebih rendah, hingga defisit fiskal yang melebar akibat penerimaan pemerintah yang masih lemah,” ujar Rully, Senin (19/1/2026).
Selain itu, tekanan eksternal juga masih membayangi pasar keuangan domestik. Sentimen risk-off global mendorong penguatan indeks dollar AS (DXY), yang berdampak pada depresiasi nilai tukar rupiah yang kian mendekati level Rp 17.000 per dolar AS.
Kondisi tersebut membuat ruang pelonggaran kebijakan moneter menjadi semakin terbatas. Kombinasi inflasi yang tinggi dan depresiasi rupiah menyebabkan Bank Indonesia memiliki ruang yang sangat sempit untuk menurunkan suku bunga pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) 20–21 Januari 2026.
“Dalam jangka pendek, arah kebijakan moneter akan sangat berhati-hati. Namun, pasar saham tetap bergerak positif karena pelaku pasar melihat prospek ekonomi yang lebih baik ke depan, terutama apabila kebijakan moneter dan fiskal dapat diselaraskan,” jelas Rully.
Menurutnya, dalam jangka menengah, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan meningkat menjadi 5,3% pada 2026, dibandingkan sekitar 5,1% pada 2025. Momentum ini akan sangat bergantung pada efektivitas kebijakan fiskal dalam mendorong belanja produktif dan menjaga keberlanjutan pertumbuhan.
“Keselarasan kebijakan moneter dan fiskal akan menjadi salah satu faktor kunci yang mendukung target IHSG 10.500. Apabila likuiditas terjaga dan stimulus fiskal berjalan efektif, pasar akan memiliki fondasi yang lebih kuat,” tambahnya.
Dalam jangka panjang, konsistensi kebijakan dan kepastian arah ekonomi akan memperkuat kepercayaan investor. Dari sisi sektoral, penguatan IHSG sejak awal tahun didorong saham-saham komoditas dan pertambangan seperti AMMN, BUMI, BYAN, dan BRMS, dengan potensi berlanjut seiring penguatan harga komoditas, khususnya emas, di tengah ketidakpastian geopolitik.
“Selain komoditas, sektor telekomunikasi dan infrastruktur telekomunikasi juga berpotensi menjadi pendorong IHSG, didukung oleh pertumbuhan ekonomi digital dan kebutuhan investasi jaringan yang berkelanjutan,” tutup Rully.


0 comments:
Post a Comment