BPF Jambi. Powered by Blogger.

Blog Archive

Latest Article Get our latest posts by subscribing this site

Rating S&P RI Stabil, Purbaya: Kebijakan Kami Tidak Menuju Indonesia Cemas

 Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. (ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga)

Jakarta, Beritasatu.com - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai keputusan S&P Global Ratings mempertahankan peringkat kredit Indonesia menjadi sinyal bahwa kebijakan pemerintah masih berada di jalur yang tepat dan tetap mendapat kepercayaan dunia internasional.

S&P mempertahankan peringkat kredit jangka panjang Indonesia di level BBB serta peringkat jangka pendek A-2 dengan prospek (outlook) stabil.

Purbaya menyebut keputusan lembaga pemeringkat internasional tersebut sebagai kabar baik bagi Indonesia. Menurutnya, penilaian S&P mencerminkan kepercayaan global terhadap arah kebijakan ekonomi dan fiskal pemerintah yang tetap terjaga.

“Kami juga ingin menyampaikan kabar baik bahwa dukungan dan kerja sama yang baik antara pemerintahan dan DPR RI, kemarin lembaga rating S&P mempertahankan peringkat kredit Republik Indonesia pada level BBB atau A-2 dengan outlook stabil,” kata Purbaya dalam Rapat Paripurna DPR RI ke-25 Masa Persidangan V Tahun Sidang 2026, Selasa (14/7/2026).

ADVERTISEMENT

Peringkat BBB menempatkan surat utang Indonesia dalam kategori investment grade atau layak investasi. Sementara itu, outlook stabil menunjukkan S&P belum memperkirakan adanya perubahan peringkat kredit Indonesia dalam waktu dekat.

Menurut Purbaya, keputusan tersebut menjadi validasi dari lembaga internasional terhadap arah kebijakan ekonomi yang dijalankan pemerintah.

“Jadi pengumuman S&P ini memberikan indikasi yang jelas bahwa memang lembaga internasional yang benar, yang jujur, prudent, dan independen melihat kebijakan kita baik,” jelasnya.

Purbaya mengatakan keputusan S&P juga menjadi jawaban atas berbagai sentimen negatif mengenai kondisi fiskal Indonesia. Dalam beberapa bulan terakhir, muncul kekhawatiran bahwa kebijakan anggaran pemerintah dapat memicu penurunan peringkat kredit Indonesia.

Namun, S&P tetap mempertahankan rating Indonesia di level BBB dengan outlook stabil. Menurut Purbaya, keputusan tersebut menunjukkan bahwa kekhawatiran terhadap penurunan peringkat belum terbukti.

Ia juga mengapresiasi sinergi antara pemerintah dan DPR RI dalam merumuskan berbagai kebijakan. Menurutnya, koordinasi yang baik diperlukan agar setiap kebijakan tetap sejalan dengan undang-undang dan tujuan pembangunan nasional.

“DPR dengan pemerintah adalah satu kesatuan yang baik. Sehingga mereka bisa melihat bahwa kebijakan kita adalah kebijakan yang utuh dan betul-betul bertujuan untuk memakmurkan rakyat tanpa melanggar undang-undang yang sudah dibuat oleh parlemen,” lanjutnya.

Purbaya menegaskan pemerintah akan terus mengarahkan kebijakan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus menjaga kredibilitas fiskal agar tetap memperoleh kepercayaan investor dan lembaga pemeringkat internasional.

Ia pun menepis anggapan bahwa Indonesia sedang menuju situasi yang mengkhawatirkan. Menurutnya, keputusan S&P menjadi salah satu indikator bahwa arah kebijakan pemerintah masih dinilai positif.

“Jadi Indonesia, tidak menuju Indonesia cemas, tetapi menuju ke Indonesia emas,” tandasnya.

Indef Sebut B50 Hemat Anggaran Solar Rp 15.600 Per Liter

 Pengisian BBM di SPBU Pertamina.

Pengisian BBM di SPBU Pertamina. (Pertamina/Istimewa)

Jakarta, Beritasatu.com – Program mandatori biodiesel B50 dinilai memberikan manfaat besar bagi neraca perdagangan Indonesia karena mampu menekan impor bahan bakar minyak (BBM) di tengah tingginya harga solar dunia.

Pengamat ekonomi Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Andry Satrio mengatakan penggunaan biodiesel B50 membuat kebutuhan impor solar berkurang karena setiap liter fatty acid methyl ester (FAME) menggantikan konsumsi satu liter solar berbasis fosil.

Menurut dia, dengan harga distilat global yang saat ini berada di kisaran US$ 138 per barel, penghematan yang dihasilkan dari setiap liter FAME diperkirakan mencapai US$ 0,80 hingga US$ 0,87 atau sekitar Rp 14.400 hingga Rp 15.660 per liter (asumsi kurs Rp 18.000 per dolar AS).

"B50 membantu neraca perdagangan dengan cara memotong impor BBM. Setiap liter fatty acid methyl ester (FAME) menggantikan satu liter solar fosil, dan pada harga distilat hari ini yang sekitar US$ 138 per barel, penghematannya bernilai sekitar US$ 0,80 sampai US$ 0,87 per liter atau setara Rp 14.400 hingga Rp 15.660 per liter (asumsi kurs Rp 18.000 per dolar AS)," ujar Andry, dilansir dari Antara, di Jakarta, Senin (13/7/2026).ADVERTISEMENT

Andry menjelaskan besarnya nilai penghematan tersebut dipicu kondisi pasar energi global yang masih belum normal. Meski harga minyak mentah telah turun ke sekitar US$ 72 per barel, harga solar belum mengikuti tren penurunan karena pasokan distilat masih terganggu akibat situasi di Selat Hormuz.

Kondisi tersebut membuat crack spread, yakni selisih harga antara minyak mentah sebagai bahan baku dan produk hasil pengolahannya, melonjak menjadi sekitar 70% hingga 75% dari nilai satu barel minyak mentah. Pada awal tahun, angkanya masih berada di kisaran 27%.

Sementara itu, Presiden Prabowo Subianto meminta kalangan ilmuwan dan perguruan tinggi terus mengembangkan riset energi terbarukan agar Indonesia tidak berhenti pada implementasi mandatori biodiesel B50.

Prabowo menilai pengembangan biodiesel perlu terus dilanjutkan menuju tingkat campuran yang lebih tinggi sebagai bagian dari strategi mewujudkan kemandirian energi nasional.

 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. BPFJAMBI - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger