
Jakarta, Beritasatu.com - Tren mengubah gambar menjadi bergaya era 1980-an menggunakan artificial intelligence (AI) pada ChatGPT tengah ramai dilakukan warganet. Foto dengan nuansa retro bermunculan di media sosial, mulai dari tampilan pakaian hingga gaya visual yang identik dengan era 80-an.
Pengguna cukup mengunggah foto ke ChatGPT untuk melihat wajah mereka dalam tampilan khas masa tersebut. Dengan fitur image generation, proses pembuatan visual baru dapat dilakukan dalam waktu singkat tanpa pengguna harus menyusun prompt sendiri.
Tren ini mengingatkan pada fenomena serupa ketika warganet ramai mengubah foto menjadi bergaya Studio Ghibli. Penggunaan fitur AI saat itu bahkan membuat CEO OpenAI Sam Altman meminta pengguna mengurangi pembuatan gambar.
Di balik proses yang terlihat sederhana, terdapat komputasi yang membutuhkan listrik dan menghasilkan panas. Kondisi tersebut kemudian menimbulkan pertanyaan lain, apakah tren foto 80-an menggunakan ChatGPT juga memiliki dampak terhadap lingkungan, termasuk penggunaan air?
Bagaimana ChatGPT Membuat Foto Bergaya 1980-an?
Ketika pengguna meminta ChatGPT atau layanan AI lain membuat sebuah gambar, proses tersebut tidak berlangsung langsung di smartphone. Permintaan pengguna dikirim ke server yang berada di pusat data.
Mengutip laporan FirstPost, prosesor khusus di pusat data kemudian menjalankan model AI untuk memahami perintah, memproses gambar, dan menghasilkan visual baru sesuai permintaan.
Besarnya kebutuhan komputasi bergantung pada kompleksitas tugas. Semakin rumit proses yang harus dilakukan, semakin besar pula komputasi yang diperlukan.
Artinya, meski pengguna hanya melihat proses pembuatan foto dalam hitungan detik melalui layar ponsel atau komputer, terdapat rangkaian proses komputasi di belakangnya.
Berapa Banyak Listrik yang Dibutuhkan untuk Membuat Gambar AI?
Tidak ada angka tunggal yang bisa digunakan untuk menyebut kebutuhan listrik setiap gambar AI.
Penelitian yang dilakukan Carnegie Mellon University dan Hugging Face menemukan konsumsi energi untuk menghasilkan gambar AI dapat berbeda jauh, tergantung model yang digunakan. Dalam pengujian tersebut, beberapa model membutuhkan energi jauh lebih besar dibandingkan model lainnya.
Penelitian terhadap berbagai model pembuat gambar AI juga menunjukkan perbedaan konsumsi energi yang sangat lebar. Sejumlah faktor dapat memengaruhi kebutuhan tersebut, termasuk model yang digunakan, resolusi gambar, dan metode generasi.
Karena itu, pernyataan yang menyebut setiap foto AI membutuhkan listrik dalam jumlah tertentu tidak dapat diterapkan secara umum. Kebutuhan energi bergantung pada proses yang digunakan untuk menghasilkan gambar tersebut.
Mengapa Tren Viral Bisa Menjadi Persoalan?
Satu gambar mungkin terlihat seperti aktivitas komputasi yang kecil. Persoalannya muncul ketika aktivitas tersebut dilakukan dalam jumlah sangat besar.
Dalam tren foto 80-an, misalnya, pengguna tidak selalu berhenti setelah menghasilkan satu foto. Mereka bisa mencoba beberapa prompt, membuat variasi, mengganti gaya, meningkatkan resolusi, kemudian mengulangi proses sampai mendapatkan hasil yang dianggap sesuai.
Jika pola tersebut dilakukan oleh jutaan pengguna, kebutuhan komputasinya pun ikut terakumulasi. Foto yang terlihat sederhana di layar pengguna dapat berarti jutaan proses komputasi yang berjalan di pusat data.
Penggunaan generative AI juga tidak terbatas pada foto. Teknologi yang sama dapat digunakan untuk membuat ilustrasi, video, animasi, hingga berbagai jenis konten lain dengan tingkat kompleksitas yang semakin tinggi.
AI Tidak Hanya Membutuhkan Listrik, tetapi Juga Air
Selain listrik, ada kebutuhan lain dalam pengoperasian pusat data yang jarang terlihat pengguna, yakni air.
Server dan perangkat komputasi di pusat data menghasilkan panas dalam jumlah besar ketika bekerja. Panas tersebut perlu dibuang agar perangkat dapat beroperasi tanpa mengalami overheating.
Air menjadi salah satu sumber yang digunakan dalam sistem pendinginan pusat data. Penelitian University of California, Riverside mengenai jejak penggunaan air oleh AI menunjukkan konsumsi air dapat menjadi bagian signifikan dari jejak lingkungan sistem AI.
Namun, jumlah air yang digunakan tidak selalu sama. Lokasi pusat data, teknologi pendinginan, dan sumber listrik yang digunakan dapat memengaruhi besarnya konsumsi air.
Dengan kondisi tersebut, klaim seperti "satu foto AI menghabiskan sekian mililiter air" tidak sepenuhnya tepat jika diterapkan secara umum. Perhitungannya tidak sesederhana membagi satu proses pembuatan gambar dengan jumlah air tertentu.
Pusat data dengan teknologi pendinginan berbeda, lokasi berbeda, atau sumber listrik berbeda dapat menghasilkan jejak air dan karbon yang berbeda pula.
Dampak AI Dimulai sebelum Gambar Dibuat
Jejak lingkungan AI juga tidak hanya berasal dari listrik yang digunakan ketika sebuah gambar diproses.
Pusat data membutuhkan berbagai perangkat, seperti GPU, server, chip, sistem penyimpanan, dan perangkat jaringan. Seluruh perangkat tersebut harus diproduksi terlebih dahulu sebelum dapat digunakan untuk menjalankan layanan AI.
Dengan demikian, terdapat rantai panjang sebelum sebuah prompt menghasilkan foto di layar pengguna. Prosesnya mencakup pengambilan bahan mentah, produksi semikonduktor, pembuatan perangkat keras, pembangunan pusat data, transportasi, hingga pengelolaan perangkat setelah tidak digunakan.
Istilah cloud computing pun dapat membuat proses tersebut terasa seolah-olah berlangsung di tempat yang tidak terlihat. Padahal, layanan AI tetap bergantung pada pusat data berupa bangunan fisik yang dipenuhi mesin. Mesin-mesin tersebut membutuhkan energi agar dapat beroperasi.
Pertumbuhan generative AI membuat kebutuhan energi pusat data menjadi perhatian di berbagai negara.
Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan konsumsi listrik pusat data secara global akan meningkat tajam hingga 2030. AI menjadi salah satu faktor yang mendorong pertumbuhan kebutuhan komputasi tersebut.
Kondisi ini menunjukkan persoalan lingkungan tidak semata-mata berkaitan dengan tren foto 80-an yang sedang ramai.
Foto retro yang dibuat menggunakan AI merupakan salah satu contoh dari perubahan cara manusia memanfaatkan komputasi. Setelah foto, penggunaan AI dapat berkembang ke video, konten 3D, simulasi, dan berbagai kebutuhan lain dengan tingkat kompleksitas yang berbeda.
Semakin luas penggunaan teknologi tersebut, semakin besar pula skala sumber daya yang dibutuhkan untuk menjalankannya.
Apakah Harus Berhenti Membuat Foto AI?
Membuat satu atau beberapa foto AI tidak dapat dianggap sebagai penyebab utama kerusakan lingkungan. Persoalan utamanya berkaitan dengan akumulasi penggunaan dalam skala besar serta cara industri AI mengelola kebutuhan sumber dayanya.
Model AI yang lebih efisien dapat mengurangi kebutuhan komputasi. Pada sisi lain, pusat data yang menggunakan energi rendah karbon dapat menekan emisi.
Upaya mengurangi penggunaan air juga dapat dilakukan melalui teknologi pendinginan yang lebih hemat air dan pemanfaatan air daur ulang.
Karena itu, tanggung jawab pengelolaan dampak lingkungan tidak hanya berada pada pengguna yang membuat gambar. Perusahaan teknologi juga memiliki peran dalam mengembangkan model, chip, pusat data, dan sistem pendinginan yang lebih efisien.
Tren foto AI 80-an memang terlihat sederhana karena pengguna cukup mengunggah foto dan mendapatkan hasil visual baru dalam waktu singkat. Namun, proses di baliknya melibatkan pusat data, perangkat komputasi, listrik, serta sistem pendinginan yang dapat menggunakan air.
Tidak tepat jika setiap gambar AI disebut memiliki konsumsi air atau listrik yang sama. Kebutuhannya bergantung pada berbagai faktor, termasuk model, resolusi, metode generasi, lokasi pusat data, teknologi pendinginan, dan sumber listrik.
Dampak lingkungan baru menjadi persoalan yang lebih besar ketika penggunaan AI terakumulasi dalam skala luas. Karena itu, pembahasan mengenai tren ini tidak hanya berkaitan dengan berapa banyak gambar yang dibuat pengguna, tetapi juga efisiensi teknologi dan pengelolaan sumber daya oleh industri AI.

