
Jakarta, Beritasatu.com – Harga minyak dunia kembali turun pada Kamis (2/7/2026), menandai penurunan selama tiga hari berturut-turut. Pelemahan dipicu oleh kemajuan dalam pembicaraan tidak langsung antara Amerika Serikat (AS) dan Iran mengenai Selat Hormuz, yang meredakan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan minyak global.
Dikutip dari Reuters, Kamis (2/7/2026), Kementerian Luar Negeri Qatar menyatakan pembicaraan yang berlangsung di Doha menghasilkan kemajuan positif terkait pelaksanaan nota kesepahaman yang mengakhiri perang. Meski demikian, kedua pihak belum mencapai kemajuan berarti menuju kesepakatan damai yang bersifat permanen.
Harga minyak mentah Brent pada Kamis siang turun 77 sen atau 1,1% menjadi US$ 70,80 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melemah 84 sen atau 1,2% menjadi US$ 67,74 per barel.
Kedua acuan harga minyak tersebut juga turun lebih dari 1% pada perdagangan sebelumnya dan menyentuh level terendah dalam empat bulan terakhir.
Analis Haitong Futures menilai terbukanya kembali Selat Hormuz bagi pengiriman minyak membuat pasokan minyak mentah kembali mengalir lancar ke pasar. Kondisi ini meningkatkan ekspektasi kelebihan pasokan (oversupply), sementara persaingan memperebutkan pangsa pasar ikut menekan harga minyak.
Tekanan terhadap harga minyak juga datang dari rencana negara-negara anggota OPEC+ yang diperkirakan akan kembali menyetujui kenaikan target produksi mulai Agustus 2026.
Sementara itu, bank investasi UBS memangkas proyeksi harga minyak Brent seusai tercapainya nota kesepahaman antara AS dan Iran yang diikuti meningkatnya pengiriman minyak melalui Selat Hormuz.
UBS memangkas proyeksi rata-rata harga Brent untuk kuartal III 2026 sebesar US$ 25 per barel dan untuk kuartal IV sebesar US$ 10 per barel. Kini, UBS memperkirakan harga Brent rata-rata berada pada level US$ 80 per barel pada paruh kedua 2026 dan turun menjadi sekitar US$ 75 per barel pada 2027.
"Meski demikian, kami menilai masih terlalu dini untuk menganggap kondisi telah sepenuhnya normal. Risiko harga minyak masih cenderung mengarah ke kenaikan karena jumlah kapal tanker yang masuk ke Teluk Persia masih lebih sedikit dibandingkan kapal yang keluar," tulis UBS.







