
Jakarta, Beritasatu.com – Nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Jumat (9/10/2026). Penguatan mata uang Garuda terjadi setelah pada perdagangan sebelumnya rupiah ditutup melemah.
Mengacu pada data Bloomberg, rupiah di pasar spot menguat 11 poin atau 0,06% ke level Rp 17.904 per dolar AS. Pada penutupan perdagangan Kamis (8/10/2026), rupiah melemah 28 poin atau 0,16% ke posisi Rp 17.915 per dolar AS.
Pergerakan rupiah berlangsung di tengah pelemahan dolar AS di pasar global. Reuters melaporkan, dolar AS tertekan pada Kamis setelah kenaikan imbal hasil obligasi zona euro terhenti. Sementara itu, ekspektasi pasar terhadap arah suku bunga Federal Reserve (The Fed) sepanjang tahun ini relatif tidak berubah.
Indeks dolar AS turun 0,08% ke level 102,17 setelah sempat menyentuh 102,46. Pada saat yang sama, euro menguat 0,08% menjadi US$ 1,1204, setelah sebelumnya sempat turun ke US$ 1,1171.
Pound sterling Inggris juga naik 0,07% ke US$ 1,3219. Penguatan tersebut terjadi setelah Gubernur Bank of England Andrew Bailey menyampaikan perlunya peningkatan upaya untuk memperbaiki kondisi keuangan publik Inggris. Pernyataan itu muncul di tengah tekanan pada pasar obligasi global akibat tingginya tingkat pinjaman dan meningkatnya tekanan inflasi.
Sementara itu, yen Jepang menguat 0,12% ke level 157,88 per dolar AS. Pergerakan yen terjadi setelah Bank of Japan menyatakan bahwa kenaikan inflasi akibat mahalnya bahan baku mulai berdampak pada harga barang konsumsi.
Di sisi kebijakan moneter AS, data CME FedWatch menunjukkan peluang The Fed menaikkan suku bunga setidaknya 25 basis poin sebesar 17,2%. Angka tersebut turun dibandingkan dengan perkiraan pasar sebesar 24,4% pada pekan sebelumnya.
Meski demikian, pelaku pasar masih memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sebesar 81,2% pada pertemuan bank sentral AS pada Desember mendatang.


0 comments:
Post a Comment